Senin, 10 November 2008

Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui PBL

Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah
Oleh: Trihadiyanti, S.Pd

Kreativitas merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun cukup rumit sehingga menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Menurut Supriadi (2001) kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda tergantung pada bagaimana orang mendefinisikannya. Tidak ada satu definisipun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas atau tidak ada satu definisipun yang dapat diterima secara universal. Hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional yang mengundang berbagai tafsiran yang beragam Kedua, definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuatan definisi kreativitas tersebut. Walaupun demikian akan dipaparkan beberapa definisi kreativitas yang dikemukakan oleh para ahli.

Supriadi (2001) memaparkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Sementara itu, Munandar (1999) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya, yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya baik itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat. Selain itu, menurut pandangan ahli psikologis Horrace et al (Sumarno, 2003) dikatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk
menemukan cara-cara baru bagi pemecahan problema-problema, baik yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, seni sastra atau seni lainnya, yang mengandung suatu hasil atau pendekatan yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan, meskipun bagi orang lain merupakan suatu hal yang tidak asing lagi.

Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada intinya kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru dan merupakan hasil kombinasi dari beberapa data atau informasi yang diperoleh sebelumnya, terwujud dalam suatu gagasan atau karya nyata. Ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu ciri kognitif (aptitude) dan ciri non-kognitif (nonaptitude). Ciri kognitif dari kreativitas terdiri dari orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran dan elaboratif. Sedangkan ciri non-kognitif dari kreativitas meliputi motivasi, kepribadian, dan sikap kreatif. Kreativitas baik itu yang meliputi ciri kognitif maupun ciri non kognitif merupakan salah satu potensi yang penting untuk dipupuk dan dikembangkan. Pentingnya pengembangan kreativitas ini memiliki empat alasan, yaitu:

1. Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan dirinya, perwujudan diri tersebut termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Menurut Maslow (Munandar, 1999) kreativitas juga merupakan manifestasi dari seseorang yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya.

2. Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis, penalaran, ingatan atau pengetahuan yang menuntut jawaban paling tepat terhadap permasalahan yang diberikan. Kreativitas yang menuntut
sikap kreatif dari individu itu sendiri perlu dipupuk untuk melatih anak berpikir luwes (flexibility), lancar fluency), asli (originality), menguraikan (elaboration) dan dirumuskan kembali (redefinition) yang merupakan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford (Supriadi, 2001).

3. Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.

4. Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.

Mengingat pentingnya kreativitas siswa tersebut, maka di sekolah perlu disusun suatu strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas. Strategi tersebut diantaranya meliputi pemilihan pendekatan, metode atau model pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang saat ini sedang berkembang ialah pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran (Ratnaningsih, 2003). Masalah yang disajikan pada siswa merupakan masalah kehidupan sehari-hari (kontekstual). Pembelajaran berbasis masalah ini dirancang dengan tujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman-pengalaman
nyata (Ratnaningsih, 2003). Pada pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban yang benar, artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kreatif. Siswa diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada dilingkungannya.

Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah, siswa berperan sebagai seorang profesional dalam menghadapi permasalahan yang muncul, meskipun dengan sudut pandang yang tidak jelas dan informasi yang minimal, siswa tetap dituntut untuk menentukan solusi terbaik yang mungkin ada. Pembelajaran berbasis masalah membuat perubahan dalam proses pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru. Guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan berperan sebagai pemandu siswa dalam menyelesaikan permasalahan
dengan memberikan langkah-langkah penyelesaian yang sudah jadi melainkan guru berkeliling kelas memfasilitasi diskusi, memberikan pertanyaan, dan membantu siswa untuk menjadi lebih sadar akan proses pembelajaran.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003), ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan yang autentik. multidisiplin, menuntut kerjasama dalam penyelidikan, dan menghasilkan karya. Dalam pembelajaran berbasis masalah situasi atau masalah menjadi titik tolak pembelajaran untuk memahami konsep, prinsip dan mengembangkan keterampilan memecahkan masalah.

Pierce dan Jones (Ratnaningsih, 2003) mengemukakan bahwa kejadian-kejadian yang harus muncul pada waktu pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Keterlibatan (engagement) meliputi mempersiapkan siswa untuk berperan sebagai pemecah masalah yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk mempu menemukan masalah dan meneliti permasalahan sambil mengajukkan dugaan dan rencana penyelesaian.

b. Inkuiri dan investigasi (inquiry dan investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan mendistribuskan informasi.

c. Performansi (performnace) yaitu menyajikan temuan.

d. Tanya jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah.

Pembelajaran berbasis masalah membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri, artinya ketika siswa belajar, maka siswa dapat memilih strategi belajar yang sesuai, terampil menggunakan strategi tersebut untuk belajar dan mampu mengontrol proses belajarnya, serta termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya itu (Depdiknas, 2003). Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa memahami konsep suatu materi dimulai dari
belajar dan bekerja pada situasi masalah (tidak terdefinisi dengan baik) atau open ended yang disajikan pada awal pembelajaran, sehingga siswa diberi kebebasan berpikir dalam mencari solusi dari situasi masalah yang diberikan.
Menurut Ismail (Ratnaningsih 2003) pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama, yaitu:

a. Orientasi siswa pada masalah dengan cara guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.

b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar dengan cara guru membantu siswa dalam mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

c. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok dengan cara guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dengan cara guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.

e. Manganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan cara guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan siswa dan proses yang digunakan.

Pada intinya pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata disajikan di awal pembelajaran. Kemudian masalah tersebut diselidiki untuk diketahui solusi dari pemecahan masalah tersebut. Menurut Torrance (1976) model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah seperti pada pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang efektif
untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa, salah satunya adalah kreativitas siswa. Situasi masalah yang disajikan dalam pembelajaran tersebut merupakan suatu stimulus yang dapat mendorong potensi kreativitas dari siswa terutama dalam hal pemecahan masalah yang dimunculkan. Kreativitas yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran berbasis masalah ini bukan hanya aspek kognitifnya saja (kemampuan berfikir kreatif) tetapi juga diharapkan melalui pembelajaran berbasis masalah tersebut dapat mengembangkan aspek non-kognitif dari kreatifitas yakni kepribadian kreatif dan sikap kreatif. siswa.

Daftar Pustaka
Depdiknas. (2003). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Munandar, S.C.U. (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Ratnaningsih, N. (2003). Pengembangan Kemampuan Berfikir Matematik Siswa SMU Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis Program Pasca Sarjana UPI: Tidak diterbitkan.

Ruindungan, M.G. (1996). Model Bimbingan Peningkatan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah Umum. Disertasi Program Pasca Sarjana IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Sumarno, U. (2003). Efektifitas Modifikasi Model Kegiatan Praktikum Dari Wheater & Dunleavy Dalam Pembelajaran Ekologi Hewan. Tesis PPS UPI: Tidak diterbitkan.

Supriadi, D. (2001). Kreativitas, Kebudayaan, dan Perkembangan Iptek. Bandung: ALFABETA

Torrance, E.P & Khatena, J. (1976). Khatena-Torrance Creative Perception Inventory. Chicago: Stoelting Company

Creative Thinking

Creative thinking in the classroom

By Dan Hunter and Dan Bosley

February 23, 2008

ALL THE third-graders at Chase Street School in Somerset were on the floor under their desks - painting. They had been studying the Renaissance and the works of Michelangelo. And now the children were painting their own vision, Michelangelo-style.

Years from now, will they remember the facts of the Renaissance, facts that can be measured by a standardized test? Or will they remember how it felt to be in Michelangelo's skin and the challenge of articulating their individual vision?

They are likely to remember the art of creativity, something that is not measured on today's standardized tests.

Standardized tests use individual student performances to provide one measure of school achievement. This is valuable. But, because the tests are the only public measure of school success, schools have an incentive to "teach to the test" and to educate children to be test takers.

Is this all children need to learn? Are we adequately preparing them for the future? We have moved into an economy driven by ideas and innovation. Are we giving students the opportunity to develop creativity - the ability to generate ideas and then to critically evaluate potential?

According to a coalition of researchers, 81 percent of corporate leaders in America say that "creativity is an essential skill for the 21st-century workforce." In addition to creativity, these business leaders look for such skills as collaboration, problem solving, critical thinking, and oral communication.

We have proposed a bill that creates a new measure of accountability for schools in Massachusetts. With the Creative Challenge Index, a commission - comprising legislators, and business and community leaders working with the Department of Education and education leaders - would establish an index to measure how many opportunities schools provide for students to engage in the practice of creative work - taking a project from inspiration to revision to fruition. Through the index, schools can be rewarded for creative opportunities.

Schools that provide opportunities for creative work in the arts, music, drama, and dance would rise in the Index. So would schools that engage students in a broad range of creative activities, such as science fair projects, debate club, fashion design, filmmaking, or architecture.

The Creative Challenge Index would establish incentives for schools to foster creative skills through arts education and other innovative educational opportunities.

Students need this practice not only to succeed in our new economy, but to realize their potential as human beings. Indeed, many citizens value arts education and the practice of creativity.

"Coming from a technical job function, creativity is part of the essence of what we have our employee performance reviews based upon," said Nancy L. Barnes a logistics engineering technical manager. "The concept of 'creativity' stems from being able to explore in an art medium at a younger age and continuing to foster those skills throughout a child's 12 years in school."

Stephen McNulty, a Boston police officer, said, "All the aspects of music performance have transferred as critical skills. It also gave me the adaptability and confidence to succeed in this very different career. Everyone should have such an opportunity. Who would have thought that my choir director and music teacher would have such a profound effect on my life?"

John Langton of Waltham said, "I'm a computer scientist and work in R & D. Many of the skills necessary in the workforce require the ability to think creatively and constructively. The ability to write well and perform creative problem solving is indispensable in the real world, and intrinsically artistic."

Creativity is indispensable in today's world. Children need to practice creative skills in schools to become the source of innovation to drive the economy in the future. The Legislature should pass the Creative Challenge Index.

To be creative means asking, "How do you see the world and how do you see it in a way that no one else does?" Those questions lead to innovation - whether you are Michelangelo working under the ceiling of the Sistine Chapel or a Somerset third-grader painting under your desk.

Dan Hunter is executive director of the Massachusetts Advocates for the Arts, Sciences & Humanities. Representative Dan Bosley is chairman of the Joint Committee on Economic Development & Emerging Technologies.

Jumat, 16 Mei 2008

Belajar yang Menakutkan

Sumber: Kompas Cyber media

Pendidikan Kita, "Sport Jantung"?
Jumat, 11 April 2008 00:31 WIB
Maria FK Namang
Our progress as a nation can be no swifter than our progress in education. (John F Kennedy)
Makin aktifnya para siswa untuk ”belajar” demi menghadapi ujian nasional dan kian cemasnya orangtua terhadap keberhasilan anak bisa saja dipandang positif. Anak yang suka bermain lebih terpacu untuk belajar. Namun, apakah itu bermakna pedagogis dan kontributif terhadap pembangunan bangsa?
Mungkin berlebihan menandaskan bahwa ketidakberesan sosial berakar dari pendidikan. Bahkan, John Dewey, pakar pendidikan, dalam Education Today (1940) pun tidak mengatakannya. Pendidikan hanya salah satu dari berbagai institusi yang berkolaborasi dalam menata kehidupan sosial. Meski demikian, tidak dapat dihindari, pendidikan menjadi elemen penting demi menjamin sebuah tatanan sosial agar berubah secara otentik. Jelasnya, ia berada pada proses (dan mengapa tidak, menjadi proses vital) demi terjadinya perubahan yang lebih diidamkan.
Dalam kedudukannya sebagai proses, Dewey mengedepankan tiga hal sebagai pilar. Perlu ada nilai bersama (common value) yang menjadi acuan bertindak. Nilai itu menjadi daya dorong dan kekuatan perekat. Juga perlu didukung masyarakat (community) yang berperan secara proaktif dalam proses pendidikan. Keterlibatan dan prakarsa amat sangat dibutuhkan karena justru dari mereka (bukan dari pemerintah) terlahir pembaruan yang sesungguhnya. Dan, tidak kalah penting adalah dialog (communication) yang tercipta untuk mencairkan kebekuan akibat perbedaan pikiran dan kepentingan.
Alur pemikiran yang sama dikemukakan Guillermo Hoyos dkk dalam Educación, Valores y Democracia (1999). Ditekankan, pada masyarakat aktual yang amat terbuka, plural, dan demokratis, hanya akan terjaga dan tercapai tujuan bersama ketika ditopang pendidikan yang tepat. Untuk itu, model pendidikan lebih diarahkan kepada pengembangan secara integral pelbagai kemampuan peserta didik agar dalam dunia yang serba pilihan, ia memiliki skala nilai sebagai panduan bertindak.
Kontradiksi
Dalam memahami pendidikan, terdapat nilai bersama dan peran masyarakat yang kadang kandas dalam praksis. Konsep menata bangsa ke arah yang lebih baik sebagai daya dorong terjadinya reformasi kini ada dalam ambang ketidakpastian karena tidak didukung proses komunikasi yang cukup.
Para pengambil keputusan melahirkan aneka ide cemerlang yang kemudian terjabarkan dalam kurikulum paling maju (di dalamnya ada UN) di planet ini. Bahkan, patriotisme dan heroisme mereka patut dipuji karena di tengah anggaran yang sudah ”kadung terpotong” masih bisa melaksanakan ujian negara.
Namun, apakah itu bermanfaat? Untuk jangka pendek, barangkali ya. Tetapi, tidak untuk membangun masa depan bangsa. Ia malah akan amat kontraproduktif. Anak yang dipacu mengadakan ”sport otak” pada tiga bulan menjelang ujian nyaris tak punya manfaat membangun kecerdasan anak. Apa yang dikatakan akan terlupakan sesegera mungkin seirama berakhirnya ujian. Sementara sekolah yang takut ”terteror” masyarakat dengan mudah mereduksi proses pendidikan kepada sekadar lulus ujian (Kompas, 3/4).
Tidak hanya itu. Orangtua pun ikut ”sport jantung”. Di tengah harga kebutuhan pokok yang kian melambung, ia dipaksa menyisihkan dana (yang mungkin melampaui biaya operasional sekolah yang diberikan pemerintah) demi les tambahan. Bukan berlebihan kalau disebut sebuah penderitaan beruntun: ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.
Membuat pilihan
Ketidakpastian dalam pendidikan yang terus terjadi seharusnya dijawab dengan membuat pilihan yang tepat. Itu berarti kebiasaan melakukan sesuatu karena sudah biasa (kini UN karena dulu juga UN), adalah ekspresi keengganan untuk memilih. Padahal, sebuah kemajuan hanya bisa diraih ketika orang secara konsekuen memilih. Atau dalam bahasa JS Mill, siapa melakukan karena sudah biasa, tidak akan membuat pilihan.
Pilihan itu dapat berupa: pertama, mengembalikan proses sebagai elemen penting dalam pendidikan dan bukan hasil akhir (apalagi hasil instan). Mengutip Charles W Eliot, The fruit of liberal education is not learning, but the capacity and desire to learn, not knowledge, but power.
Kebijakan pendidikan kita justru mengambil langkah sebaliknya. Anak dipacu untuk belajar demi belajar. Ia kian jauh dari kerinduan untuk mengeksplorasi, mengembangkan jelajah intelektualnya secara bebas dan melahirkan karya-karya inovatif, bahkan kreatif. Proses perlu menjadi pilihan kita. Jika jalan yang benar dilewati, hasil akhir pasti dicapai. Tetapi, ketika mengharapkan tanpa membangun jalan, impian itu adalah kosong.
Kedua, membangun komunikasi. Keterpurukan bangsa adalah sebuah fakta (bukan sekadar asumsi) yang tidak bisa disangkal. Untuk itu kita perlu secara rendah hati mengakui kekeliruan kebijakan sebagai salah satu penyebabnya. Jelasnya, ke(tidak)bijakan lebih merupakan kehendak pemerintah dan bukan kerinduan masyarakat. Sebaliknya, sebuah proses (apalagi dalam pendidikan) hanya akan sukses ketika baik rakyat, siswa, atau siapa pun juga dilibatkan secara aktif. Atau seperti dikatakan syair sebuah lagu orang Indian Amerika, Tell me and I’ll forget. Show me, and I may not remember. Involve me, and I’ll understand.
Maria FK Namang Alumna Facoltà di Scienze dell’Educazione dell’Università Pontificia Salesiana, Roma