Senin, 25 Juli 2011

Tips Sukses Melakukan Presentasi

Bagaimana teknik melakukan presentasi yang baik?

Presentasi adalah penyajian informasi atau penjelasan tentang suatu topik kepada audience/penengar. Setidaknya terdapat dua hal yang harus dimiliki oleh pembicara sebelum melakukan presentasi, 1) penguasaan materi yang akan disampaikan, dan 2) penguasaan teknik presentasi yang baik (suara, gaya/penampilan, peralatan/media).

Sehubungan dengan penguasaan materi yang akan disampaikan kita dapat meramu informasi dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, buku, internet) dengan membaca sumber-sumber tersebut secara intensif dan dapat pula dengan bertanya/ wawancara dengan pakar atau ahlinya.

Bagaimana menyajikan kembali apa yang telah kita baca atau sejumlah informasi yang telah kita ketahui? Sesungguhnya otak kita dapat berfungsi sebagai memori yang dapat menyimpan banyak informasi yang kita ketahui. Menurut Tony Buzan, seorang pakar Mind Map, otak kita bekerja secara asosiatif, artinya setiap informasi atau hal baru yang diperoleh selalu dikaitkan dengan informasi lama yang sudah dimilikinya. Karena itu struktur informasi dalam memori otak kita mirip diagram pohon dan tidak tersusun secara linear atau urut.

Saran yang dikemukakan oleh Tony Buzan, agar kita dapat menyimpan informasi/ pengetahuan dalam memori otak kita dengan tempo yang lama (long term memory), semua informasi tersebut hendaknya disajikan dalam bentuk mind map (peta pikiran). – lihat cara membuat Mind Map dalam artikel yang berjudul Mind Mapping.

Di samping hal di atas seorang pembicara harus menguasai teknik presentasi/ berbicara di muka umum. Adapun beberapa tips melakukan presentasi dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.   

1.       Jangan membiasakan diri tergantung pada teks. Teks dapat membunuh bakat, merusak flow, dan menciptakan jarak. Gunakan pointers, sekadar untuk membantu Anda.

2.       Ukur secara sungguh-sungguh  “dalamnya sungai”. Pelajari dulu siapa audience Anda, latar belakang, jalan pikiran, pendidikan, dan jabatan mereka. Jangan asal “tembak”.

3.       Jangan bicarakan dua hal ini: yang sudah mereka ketahui, atau yang tak ingin mereka dengar. Selalu sajikan  hal-hal yang orisinal, jangan merusak mood audience dengan pernyataan yang tidak mereka sukai.

4.       Jangan biarkan audience jenuh. Jaga volume suara dan jaga nada agar tidak monoton. Begitu mereka mulai jenuh, ajaklah berdialog, lontarkan sedikit humor.

5.       Humor tidak boleh berlebihan. Ia hanya boleh digunakan untuk membangkitkan daya pikir. Jika berlebihan ia akan kehilangan substansi/ manfaat.

6.       Periksa ruangan dan fasilitas presentasi termasuk mikropon sebelum presentasi dimulai. Ruangan yang langit-langitnya rendah akan membuat Anda cepat letih. Cahaya yang masuk dari kaca jendela dapat mengganggu konsentrasi. Ruangan yang terlalu sempit dapat membatasi gerak tubuh Anda. Namun ruangan yang terlalu lebar dapat membuat presentasi tidak terfokus. Mikrofon dan sound system yang buruk juga dapat menggangu konsentrasi.

7.       Biasakan interaktif. Jangan asyik bicara sendiri. Berikan kesempatan kepada peserta (seminar) untuk memberikan contoh, jawaban, melakukan aktivitas tertentu (game, teka-teki atau melakukan sesuatu), tertawa, atau bahkan mendengarkan musik.

8.       Be specific. Selalu berikan contoh dan ilustrasi. Sesekali berikan cerita.

9.       Jangan merendahkan mutu dengan mengatakan “Maaf, saya sebenarnya tidak siap”, Maaf, bahasa Inggris saya payah”, “Ini bukan bidang saya”, ”Saya baru belajar”, dan seterusnya. Manusia (audience) hanya mau mendengarkan orang yang layak ia dengar, ia anggap lebih tahu.

10.   Latihan yang cukup. Selalu mintalah umpan balik. Bila perlu rekam, putar kembali, minta pendapat dari orang dekat.

11.   Perhatikan bahasa tubuh. Jangan melakukan gerakan yang merusak penampilan.

12.   Berpakianlah agak cerah agar Anda dapat menciptakan kesegaran dalam ruangan.

13.   Jangan berbicara seperti sedang ngobrol dengan seseorang. Ingatlah Anda berbicara di hadapan puluhan orang. Kombinasikan bahasa resmi dengan bahasa percakapan yang layak.

Demikianlah tips sukses melakukan presentasi, selamat mencoba.

Sumber: Kasali, Rhenald. 2001. Sukses Melakukan Presentasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Minggu, 24 Juli 2011

Memberi Komentar Isi Laporan Lisan

Memberikan Komentar Laporan terhadap Isi Laporan Lisan

Memberikan komentar terhadap isi laporan lisan hakikatnya adalah mengemukakan pendapat tentang setuju dan tidak setuju terhadap isi laporan lisan tersebut. Komentar tersebut perlu disertai argumen yang tepat, bukti-bukti, dan hal-hal yang mendukung pendapat tersebut.

Pernyataan setuju dan tidak setuju tersebut dapat disertai kritik dan saran. Hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan kritik dan saran adalah

1. Pahami benar apa yang akan Anda kritik. Kritik yang disampaikan hendaknya dipahami sebagai dapat menjadikan sesuatu lebih baik.

2. Jangan menggunakan kata-kata dan kalimat yang kasar.

3. Jangan memberikan kritik yang menjatuhkan, tetapi berilah kritik yang bersifat membangun.

Pola komnetar

Pernyataan setuju/tidak setuju -- alasan/bukti -- kritik -- saran

Contoh

"Saya setuju dengan isi laporan Anda yang menyatakan ... karena ... tetapi menurut saya isi laporan tersebut kurang ... Saran saya, sebaiknya ...."

Bahan Pembelajaran BI SMA Kelas XII Sem 1

Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia

Kelas XII SMA Semester 1

1)   Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan lisan

2)   Mengomentari berbagai laporan lisan dengan memberikan kritik dan saran

3)  Menyampaikan gagasan dan tanggapan dengan alasan yang logis dalam diskusi

4)  Menyampaikan intisari buku nonfiksi dengan menggunakan bahasa yang efektif dalam diskusi

5)  Menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif.

6)  Membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat.

7)  Menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan unsur-unsur dan struktur

8)  Menulis surat dinas berdasarkan isi, bahasa, dan format yang baku.

9) Menulis laporan diskusi dengan melampirkan notulen dan daftar hadir.

10)  Menulis resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku.

11)  Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi vocal, intonasi, dan penghayatan.

12)  Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel.

13)  Menanggapi pembacaan puisi lama tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.

14)  Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai

15)  Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai.

16) Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen

17)  Menulis resensi buku kumpulan cerpen berdasarkan unsur-unsur resensi.

18)  Menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain (pelaku, peristiwa, latar).

Mind Mapping


Mind Mapping

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.

Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.

Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.

Beberapa hal penting dalam membuat peta pikiran ada di bawah ini, yaitu:

1.   Pastikan tema utama terletak ditengah-tengah

Contohnya, apabila kita sedang mempelajari pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia, maka tema utamanya adalah Sejarah Indonesia.

2.   Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama

Dari tema utama “Sejarah Indonesia”, maka tema-tema turunan dapat terdiri dari : Periode,Wilayah, Bentuk Perjuangan ,dll.

3.   Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol

Dari setiap tema turunan tertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga dan seterusnya. Maka langkah berikutnya adalah mencari hubungan yang ada antara setiap tema turunan. Gunakan garis, warna, panah atau cabang dan bentuk-bentuk simbol lain untuk menggambarkan hubungan diantara tema-tema turunan tersebut..

Pola-pola hubungan ini akan membantu kita memahami topik yang sedang kita baca. Selain itu Peta Pikiran yang telah dimodifikasi dengan simbol dan lambang yang sesuai dengan selera kita, akan jauh lebih bermakna dan menarik dibandingkan Peta Pikiran yang “miskin warna”.

4. Gunakan huruf besar

Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di Peta Pikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poin yang sifatnya menjelaskan poin kunci.

5. Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit

Ide dari Peta Pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi Peta Pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabila kita terlalu dini melakukan modifikasi pada Peta Pikiran, maka sering kali fokus kita akan berubah sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.

6. Sisakan ruangan untuk penambahan tema

Peta Pikiran yang bermanfaat biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema dan modifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar Peta Pikiran versi pertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya selalu sisakan ruang di kertas Peta Pikiran untuk penambahan tema.

Bahan Pembelajaran BI SMA Kelas XI Sem 1

Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia

Kelas XI SMA Semester 1

1.  Menemukan  pokok-pokok isi sambutan/ khotbah yang didengar

2.  Merangkum isi pembicaraan dalam wawancara

3.  Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca (artikel atau buku)   

4.  Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan narasumber terhadap topik tertentu

5.  Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif

6.  Membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik

7.  Menulis proposal  untuk  berbagai keperluan

8.  Menulis surat dagang dan surat kuasa

9.  Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki

10. Mengidentifikasi peristiwa, pelaku dan perwatakannya, dialog, dan konflik pada  pementasan drama

11.   Menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan

12.   Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh

13.   Mengekpresikan perilaku dan dialog tokoh protagonis dan atau antagonis

14.   Menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat

15.   Menganalisis unsur-unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan

16.   Mengungkapkan prinsip-prinsip penulisan  resensi 

17.   Mengaplikasikan prinsip-prinsip penulisan resensi

Senin, 10 November 2008

Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui PBL

Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah
Oleh: Trihadiyanti, S.Pd

Kreativitas merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun cukup rumit sehingga menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Menurut Supriadi (2001) kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda tergantung pada bagaimana orang mendefinisikannya. Tidak ada satu definisipun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas atau tidak ada satu definisipun yang dapat diterima secara universal. Hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional yang mengundang berbagai tafsiran yang beragam Kedua, definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuatan definisi kreativitas tersebut. Walaupun demikian akan dipaparkan beberapa definisi kreativitas yang dikemukakan oleh para ahli.

Supriadi (2001) memaparkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Sementara itu, Munandar (1999) mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya, yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya baik itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat. Selain itu, menurut pandangan ahli psikologis Horrace et al (Sumarno, 2003) dikatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk
menemukan cara-cara baru bagi pemecahan problema-problema, baik yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, seni sastra atau seni lainnya, yang mengandung suatu hasil atau pendekatan yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan, meskipun bagi orang lain merupakan suatu hal yang tidak asing lagi.

Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada intinya kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru dan merupakan hasil kombinasi dari beberapa data atau informasi yang diperoleh sebelumnya, terwujud dalam suatu gagasan atau karya nyata. Ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu ciri kognitif (aptitude) dan ciri non-kognitif (nonaptitude). Ciri kognitif dari kreativitas terdiri dari orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran dan elaboratif. Sedangkan ciri non-kognitif dari kreativitas meliputi motivasi, kepribadian, dan sikap kreatif. Kreativitas baik itu yang meliputi ciri kognitif maupun ciri non kognitif merupakan salah satu potensi yang penting untuk dipupuk dan dikembangkan. Pentingnya pengembangan kreativitas ini memiliki empat alasan, yaitu:

1. Dengan berkreasi, orang dapat mewujudkan dirinya, perwujudan diri tersebut termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Menurut Maslow (Munandar, 1999) kreativitas juga merupakan manifestasi dari seseorang yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya.

2. Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. Siswa lebih dituntut untuk berpikir linier, logis, penalaran, ingatan atau pengetahuan yang menuntut jawaban paling tepat terhadap permasalahan yang diberikan. Kreativitas yang menuntut
sikap kreatif dari individu itu sendiri perlu dipupuk untuk melatih anak berpikir luwes (flexibility), lancar fluency), asli (originality), menguraikan (elaboration) dan dirumuskan kembali (redefinition) yang merupakan ciri berpikir kreatif yang dikemukakan oleh Guilford (Supriadi, 2001).

3. Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.

4. Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.

Mengingat pentingnya kreativitas siswa tersebut, maka di sekolah perlu disusun suatu strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kreativitas. Strategi tersebut diantaranya meliputi pemilihan pendekatan, metode atau model pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang saat ini sedang berkembang ialah pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran (Ratnaningsih, 2003). Masalah yang disajikan pada siswa merupakan masalah kehidupan sehari-hari (kontekstual). Pembelajaran berbasis masalah ini dirancang dengan tujuan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui keterlibatan mereka dalam pengalaman-pengalaman
nyata (Ratnaningsih, 2003). Pada pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban yang benar, artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kreatif. Siswa diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada dilingkungannya.

Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah, siswa berperan sebagai seorang profesional dalam menghadapi permasalahan yang muncul, meskipun dengan sudut pandang yang tidak jelas dan informasi yang minimal, siswa tetap dituntut untuk menentukan solusi terbaik yang mungkin ada. Pembelajaran berbasis masalah membuat perubahan dalam proses pembelajaran khususnya dalam segi peranan guru. Guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan berperan sebagai pemandu siswa dalam menyelesaikan permasalahan
dengan memberikan langkah-langkah penyelesaian yang sudah jadi melainkan guru berkeliling kelas memfasilitasi diskusi, memberikan pertanyaan, dan membantu siswa untuk menjadi lebih sadar akan proses pembelajaran.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003), ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan yang autentik. multidisiplin, menuntut kerjasama dalam penyelidikan, dan menghasilkan karya. Dalam pembelajaran berbasis masalah situasi atau masalah menjadi titik tolak pembelajaran untuk memahami konsep, prinsip dan mengembangkan keterampilan memecahkan masalah.

Pierce dan Jones (Ratnaningsih, 2003) mengemukakan bahwa kejadian-kejadian yang harus muncul pada waktu pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
a. Keterlibatan (engagement) meliputi mempersiapkan siswa untuk berperan sebagai pemecah masalah yang bisa bekerja sama dengan pihak lain, menghadapkan siswa pada situasi yang mendorong untuk mempu menemukan masalah dan meneliti permasalahan sambil mengajukkan dugaan dan rencana penyelesaian.

b. Inkuiri dan investigasi (inquiry dan investigation) yang mencakup kegiatan mengeksplorasi dan mendistribuskan informasi.

c. Performansi (performnace) yaitu menyajikan temuan.

d. Tanya jawab (debriefing) yaitu menguji keakuratan dari solusi dan melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah.

Pembelajaran berbasis masalah membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri, artinya ketika siswa belajar, maka siswa dapat memilih strategi belajar yang sesuai, terampil menggunakan strategi tersebut untuk belajar dan mampu mengontrol proses belajarnya, serta termotivasi untuk menyelesaikan belajarnya itu (Depdiknas, 2003). Dalam pembelajaran berbasis masalah siswa memahami konsep suatu materi dimulai dari
belajar dan bekerja pada situasi masalah (tidak terdefinisi dengan baik) atau open ended yang disajikan pada awal pembelajaran, sehingga siswa diberi kebebasan berpikir dalam mencari solusi dari situasi masalah yang diberikan.
Menurut Ismail (Ratnaningsih 2003) pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama, yaitu:

a. Orientasi siswa pada masalah dengan cara guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.

b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar dengan cara guru membantu siswa dalam mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

c. Membimbing penyelidikan individual dan kelompok dengan cara guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dengan cara guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.

e. Manganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dengan cara guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan siswa dan proses yang digunakan.

Pada intinya pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata disajikan di awal pembelajaran. Kemudian masalah tersebut diselidiki untuk diketahui solusi dari pemecahan masalah tersebut. Menurut Torrance (1976) model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah seperti pada pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang efektif
untuk meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa, salah satunya adalah kreativitas siswa. Situasi masalah yang disajikan dalam pembelajaran tersebut merupakan suatu stimulus yang dapat mendorong potensi kreativitas dari siswa terutama dalam hal pemecahan masalah yang dimunculkan. Kreativitas yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran berbasis masalah ini bukan hanya aspek kognitifnya saja (kemampuan berfikir kreatif) tetapi juga diharapkan melalui pembelajaran berbasis masalah tersebut dapat mengembangkan aspek non-kognitif dari kreatifitas yakni kepribadian kreatif dan sikap kreatif. siswa.

Daftar Pustaka
Depdiknas. (2003). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Munandar, S.C.U. (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Ratnaningsih, N. (2003). Pengembangan Kemampuan Berfikir Matematik Siswa SMU Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis Program Pasca Sarjana UPI: Tidak diterbitkan.

Ruindungan, M.G. (1996). Model Bimbingan Peningkatan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah Umum. Disertasi Program Pasca Sarjana IKIP Bandung: Tidak diterbitkan.

Sumarno, U. (2003). Efektifitas Modifikasi Model Kegiatan Praktikum Dari Wheater & Dunleavy Dalam Pembelajaran Ekologi Hewan. Tesis PPS UPI: Tidak diterbitkan.

Supriadi, D. (2001). Kreativitas, Kebudayaan, dan Perkembangan Iptek. Bandung: ALFABETA

Torrance, E.P & Khatena, J. (1976). Khatena-Torrance Creative Perception Inventory. Chicago: Stoelting Company

Creative Thinking

Creative thinking in the classroom

By Dan Hunter and Dan Bosley

February 23, 2008

ALL THE third-graders at Chase Street School in Somerset were on the floor under their desks - painting. They had been studying the Renaissance and the works of Michelangelo. And now the children were painting their own vision, Michelangelo-style.

Years from now, will they remember the facts of the Renaissance, facts that can be measured by a standardized test? Or will they remember how it felt to be in Michelangelo's skin and the challenge of articulating their individual vision?

They are likely to remember the art of creativity, something that is not measured on today's standardized tests.

Standardized tests use individual student performances to provide one measure of school achievement. This is valuable. But, because the tests are the only public measure of school success, schools have an incentive to "teach to the test" and to educate children to be test takers.

Is this all children need to learn? Are we adequately preparing them for the future? We have moved into an economy driven by ideas and innovation. Are we giving students the opportunity to develop creativity - the ability to generate ideas and then to critically evaluate potential?

According to a coalition of researchers, 81 percent of corporate leaders in America say that "creativity is an essential skill for the 21st-century workforce." In addition to creativity, these business leaders look for such skills as collaboration, problem solving, critical thinking, and oral communication.

We have proposed a bill that creates a new measure of accountability for schools in Massachusetts. With the Creative Challenge Index, a commission - comprising legislators, and business and community leaders working with the Department of Education and education leaders - would establish an index to measure how many opportunities schools provide for students to engage in the practice of creative work - taking a project from inspiration to revision to fruition. Through the index, schools can be rewarded for creative opportunities.

Schools that provide opportunities for creative work in the arts, music, drama, and dance would rise in the Index. So would schools that engage students in a broad range of creative activities, such as science fair projects, debate club, fashion design, filmmaking, or architecture.

The Creative Challenge Index would establish incentives for schools to foster creative skills through arts education and other innovative educational opportunities.

Students need this practice not only to succeed in our new economy, but to realize their potential as human beings. Indeed, many citizens value arts education and the practice of creativity.

"Coming from a technical job function, creativity is part of the essence of what we have our employee performance reviews based upon," said Nancy L. Barnes a logistics engineering technical manager. "The concept of 'creativity' stems from being able to explore in an art medium at a younger age and continuing to foster those skills throughout a child's 12 years in school."

Stephen McNulty, a Boston police officer, said, "All the aspects of music performance have transferred as critical skills. It also gave me the adaptability and confidence to succeed in this very different career. Everyone should have such an opportunity. Who would have thought that my choir director and music teacher would have such a profound effect on my life?"

John Langton of Waltham said, "I'm a computer scientist and work in R & D. Many of the skills necessary in the workforce require the ability to think creatively and constructively. The ability to write well and perform creative problem solving is indispensable in the real world, and intrinsically artistic."

Creativity is indispensable in today's world. Children need to practice creative skills in schools to become the source of innovation to drive the economy in the future. The Legislature should pass the Creative Challenge Index.

To be creative means asking, "How do you see the world and how do you see it in a way that no one else does?" Those questions lead to innovation - whether you are Michelangelo working under the ceiling of the Sistine Chapel or a Somerset third-grader painting under your desk.

Dan Hunter is executive director of the Massachusetts Advocates for the Arts, Sciences & Humanities. Representative Dan Bosley is chairman of the Joint Committee on Economic Development & Emerging Technologies.